Agus Hidayat menciptakan kolam belut yang ringkas, knockdown. Bahan bakunya potongan pipa besi air ledeng dan terpal. Itu solusi bagi peternak di perkotaan yang sering terganjal keterbatasan lahan.
Kelebihan itu tidak dimiliki kolam semen dan kolam bambu yang selama ini dipakai. Contoh kolam semen. Jumlah produksi dengan luasan serupa akan sama, tapi kerepotan muncul bila kolam permanen itu dipanen. Jika tak mau membobok kolam, belut ditangkap setelah media diserok secara manual. Itu memakan waktu seharian. 'Dengan kolam pipa besi, panen cukup dengan membuka ikatan antarpipa sehingga terpal jatuh dan terbuka lebar,' ujar Agus.
Sederhana
Bahan membuat kolam mudah didapat. Selain pipa besi, Agus hanya memakai besi siku-siku, dan kawat tipis. Pipa berdiameter 1,5-2 cm masing-masing sepanjang 1 m dan 3 m dibuat seperti balok persegi panjang. Setiap ujung pipa dibuat ulir untuk mengikat besi siku-siku saat menyambungkan antarpipa.
Pipa tiang pancang dilebihkan sekitar 10 cm untuk ditanam sebagai pondasi. Agar rangka kolam lebih kuat, di bagian tengah balok diberi tambahan 4 batang besi cor dan pipa besi yang panjangnya mengikuti ukuran setiap sisi kolam. 'Untuk memperkuat pegangan terpal, dinding rangka diberi ram kawat,' tutur pehobi tenis itu.
Terakhir terpal dipasang mengikuti bentuk kolam. Supaya bagian atas terpal tidak jatuh, setiap ujungnya diikat kawat. Ikatan itu dipakai juga di beberapa titik sepanjang keliling atas kolam. 'Pengalaman selama ini terpal tidak pernah ambruk,' kata Agus. Namun, jika ingin lebih kuat lagi, bagian atas terpal dipatok dengan kawat tebal berukuran di atas 2 mm. 'Modal pembuatan kolam tidak sampai setengah juta rupiah,' tambahnya.
Media fermentasi
Agus menuturkan, ia memakai media fermentasi untuk memelihara belut. Media berupa campuran jerami, pelepah pisang, kompos, pupuk kandang, dan lumpur itu, dibuat di luar kolam. Alasannya, proses pematangan media berlangsung lebih cepat. 'Kalau mematangkan di kolam waktunya bisa lebih dari sebulan. Itu pun belum tentu semuanya menjadi matang,' katanya
Media dibuat dengan mencacah jerami dan pelepah pisang. Cacahan itu lantas dicampur kompos dan pupuk kandang, lalu disiram konsentrat mengandung mikroorganisme pengurai sebanyak 50 cc/10 l air. Campuran itu dijemur hingga kering, kemudian disungkup terpal sekitar 3 pekan.
Media yang sudah jadi ditaburkan setebal 60 cm, selanjutnya ditutupi lumpur setinggi 15 cm. Tambahkan air pada media hingga mencapai ketinggian 3 cm. Maksudnya agar media selalu basah sesuai habitat asli belut.
Fleksibel
Menurut Ardyant Taufik, peternak di Solo, Jawa Tengah, kolam knockdown itu sangat fleksibel. 'Selain mudah dirakit, ukurannya dapat menyesuaikan tempat yang dimiliki,' tuturnya. Artinya bentuk kolam tidak selalu persegi panjang. Lingkaran pun dapat dibuat dengan menyesuaikan bentuk pipa.
Berdasarkan pengalamannya kolam knockdown awet, dapat dipakai bertahun-tahun. 'Itu yang melandasi saya membuat kolam knockdown. Bandingkan dengan kolam bambu yang akan rapuh setelah beberapa kali panen,' tambah Agus.
Di balik keunggulan itu, Sumardi, peternak di Banyumas melihat ada kelemahan dari kolam knockdown. 'Sirkulasi air untuk menambah oksigen terlarut sedikit,' ungkapnya. Kalau pun dibuat, tidak mungkin melubangi terpal sebagai jalan keluar air. 'Jika dipaksa dibuat menyebabkan terpal bisa sobek karena mendapat tekanan dari media,' tambahnya.
'Meski mahal, kolam semen tetap lebih aplikatif,' ucap Muharni, peternak di Boyolali. Hal itu didasarkan pada kelebihan-kelebihan kolam semen dibandingkan kolam knockdown. Salah satunya dapat mempertahankan suhu ideal 26-27oC, sehingga belut-belut merasa nyaman meski dipelihara dalam kondisi panas sekalipun. Itu yang sulit didapat pada kolam knockdown. Toh kolam bongkar-pasang ciptaan Agus itu tetap menjadi jawaban atas keinginan peternak yang memiliki lahan sempit. (Hermansyah/Peliput: Kiki Rizkika)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar